Penyesalan
Kisah ini berasal dari daerah bogor, yang
menceritakan seorang siswa SMP , yang diajarkan hidup prihatin dan penuh
tanggung jawab. Anak itu bernama Alfa. Alfa adalah siswa SMP BHAKTI JAYA, Bogor.
Dia mempunyai keluarga yang utuh , sederhana. Namun bahagia. Ibunya yang
terkenal dengan keanggunan dan kesopanannya.
Ayahnya , Pak jamal yang dikenal sebagai pemimpin yang adil, tegas dan
bijaksana. Dan Alfa anak yang dikenal
sebagai anak yang rajin, pintar dan sholeh.
Suatu hari Alfa disibukkan dengan kegiatan
sekolahnya, karena dia seorang ketua osis, maka dia harus bisa membagi waktunya
antara disekolah dan dirumah. Sedangkan disisi lain dia juga aktif mengikuti
berbagai kegiatan baik secara akademis maupun non akademis. Kali ini dia
mengikuti lomba OSN bersama temannya yang bernama Ganjar.
Tepat pukul
04.00 wib, suara yang begitu nyaring
terdengar dari jam weker sangat keras
membangunkan Alfa yang sedang nyenyak tidur. Alfa bergegas bangun untuk sholat
shubuh dan bersiap siap untuk pergi ke sekolah. Kegiatan tersebut rutin
dilakukannya tepat waktu, karena ajaran ayahnya yang sangat tegas terhadap
anak-anaknya, tak terkecuali Alfa sendiri. Alfa selalu berangkat sekolah menaiki
sepeda kecilnya, terkadang dia juga berangkat dengan berjalan kaki. Jarak
sekolah Alfa dari rumahnya lumayan jauh, sekitar 4- 5 km. Tetapi, itu bukan
sebuah halangan baginya.
Namun ,Pagi itu
hari sangat cerah dan suasana pun terasa berbeda, tidak seperti hari hari
sebelumnya. Semua itu semakin terasa ketika ada perbincangan antara Alfa dan
Ayahnya. Hal ini dimulai saat Alfa akan meminjam sepeda motor ayahnya.
“ Yah, Alfa
boleh minjem motornya gak hari ini, soalnya Alfa ada keperluan disekolah untuk
mengikuti pelatihan lomba OSN ?” tanya Alfa. “ iya boleh aja, lagian sekarang
ayah gak akan pergi kemana- mana, pengen istirahat dirumah.” Jawab Ayah. “
bener yah, gak apa- apa, alfa minjem motornya cepet kok yah gak akan lama ?”
kata Alfa.
“Gak apa- apa, terserah mau sampe
jam berapa juga, tapi hati- hati ya pake motornya. Soalnya jalanan lagi macet.”
Jawab Ayah.
Perasaan Alfa
campur aduk, antara bahagia dan heran. Karena jarang- jarang ayahnya memberikan
ijin untuk menggunakan motornya. Tapi tiba- tiba semua berubah, ketika ada
tetangga yang datang kerumahnya, untuk meminjam motornya, karena ingin
menjemput sodaranya yang lagi di stasiun. Alfa pun merasa kecewa, ketika
ayahnya lebih mengutamakan tetangganya dibandingkan Alfa.
“ Al, sebaiknya
kamu berangkat ke sekolahnya pake sepeda aja, soalnya motornya
mau dipake sama tetangga cuma sebentar ko.” Kata ayah. Dengan perasaan
kecewa dan kesel, Alfa menjawab. “ayah kan udah janji mau minjemin motornya,
kenapa sekarang tiba- tiba ayah membatalkannya, Alfa benci sama ayah, ayah
sudah mengingkari janji ayah.” Teriak Alfa.
Kemudian Alfa
keluar dari rumah dengan membantingkan pintu tanpa pamit. Akhirnya Alfa
berangkat sekolah jalan kaki dengan perasaan kecewa, kesel, dan marah. Namun
ditengah perjalanan Alfa bertemu dengan Ganjar , dan mereka berangkat bersama-
sama menaiki sepeda motor ganjar. Sesampainya disekolah, mereka mengikuti
pelatihan OSN. Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat pukul 16.00 wib.
Mereka keluar dari sekolah. Dan alfa pun memutuskan untuk pulang kerumah.
Sesampainya
dirumah, Alfa melihat motor ayahnya tidak ada, padahal tadi ayahnya bilang kalo
tetangga minjem motornya gak akan lama dan ayahnya gak akan pergi kemana mana.
Tapi sekarang sudah lewat jam 16.00 motor itu tidak ada. Namun tanpa dihiraukan
lagi, Alfa pun segera masuk kerumah untuk berganti pakaian. Di rumah terlihat
ibunya sedang memasak. Tapi ada perasaan yang gak biasanya dirasakan oleh Alfa tentang Ayahnya. Dan dia
pun bertanya kepada ibunya yang lagi asyik memasak.
“ Bu, Ko motor
gak ada, katanya tetangga minjem motornya cuma sebentar, terus Ayah kemana ?”
Tanya Alfa penasaran. “ Oh , motor dipake sama Ayahmu, tadi ada telpon dari
kantor yang meminta ayahmu menyerahkan berkas berkas hari ini.” Jawab ibu
meyakinkan Alfa. “ Hm, pantesan motornya
gak ada. Yaudah deh gak apa- apa kalo gitu.” Kata Alfa.
Alfa kembali ke
kamarnya untuk melaksanakan sholat maghrib, dan ibunya melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa jam telah berlalu, namun Ayahnya belum kunjung pulang. Alfa merasakan
perasaan yang gak menentu. Tiba- tiba suara telpon berdering dan terlihat di
display handphonenya muncul nama Ayah yang memanggil. Dan panggilan tersebut dari ayahnya.
Dan Alfa pun langsung mengangkatnya. “Assalamualaikum,
Hallo yah ?” jawab Alfa. “ Maaf, apakah benar ini dengan keluarganya Pak Jamal
?” tanya penelpon. Alfa tiba- tiba heran, karena itu bukanlah suara ayahnya.
namun alfa terus melanjutkan pembicaraannya. “iya benar, ini siapa , maaf ada keperluan apa ?.” Tanya Alfa. “ Maaf de, ini dari kepolisian, ingin
memberitahukan bahwa Pak jamal mengalami
kecelakaan tadi sore dan sekarang beliau sudah dilarikan ke rumah sakit.” Jawab
penelpon.
Tiba – tiba Alfa
tersontak kaget mendengarnya. Namun , Tanpa berpikir panjang, Alfa bersama
ibunya dan adik- adiknya, bergegas pergi
ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ayahnya. Sesampainya di rumah sakit Alfa
segera menanyakan kepada suster mengenai ruangan Ayahnya. “ sus, pasien yang
bernama Pak Jamal diruangan mana iya ?” tanya Alfa. “Oh, pak jamal iya, yang
tadi sore kecelakaan, dia sekarang dirawat di UUGD.” Jawab suster. “ iya sus,
terimakasih atas informasinya.” Jawab alfa.
Alfa langsung
mengunjungi ayahnya di ruang UUGD. UUGD
adalah sebuah tempat dimana ruangan yang lebih gawat dibandingkan UGD. Disana ,
Ayahnya terbujur kaku di tempat tidur, seluruh tubuhnya penuh dengan luka, dan
belum sadarkan diri. Alfa dan ibunya serta adik- adiknya, hanya bisa menangis,
berdoa dan berharap agar ayahnya bisa sembuh kembali seperti sedia kala.
Beberapa hari
sudah berlalu, ayahnya masih belum sadarkan diri, bahkan kondisinya lebih
parah. Hingga suatu hari, ayahnya di vonis oleh dokter, bahwa beliau tidak akan bertahan lama. Vonis tersebut
jelas membuat Alfa dan keluarganya
terpukul. Namun vonis tersebut, lantas tidak membuat Alfa patah semangat, dia
terus berdoa dan berharap kepada Alloh SWT, agar akan ada keajaiban terhadap
ayahnya.
Namun takdir
berkata lain, ayahnya benar benar meninggal. Ini semua membuat ibu dan adik-
adiknya sedih. Tak terkecuali Alfa sendiri, yang merasa menyesal, karena beberapa hari sebelum kepergian ayahnya itu, dia telah
membuat ayahnya kecewa, hanya gara- gara masalah spele. Alfa sungguh tidak percaya ayahnya akan pergi
secepat itu, disaat dia belum bisa membahagiakan ayahnya dan keluarganya.
Akan tetapi,
Penyesalan itu, tidak akan membuat semuanya kembali semula. Alfa harus tetap melanjutkan
hidupnya. Dan dia berjanji terhadap dirinya sendiri, kalo dia akan belajar
dengan sungguh- sungguh dan tetap bekerja keras, agar kelak dia bisa membahagiakan
keluarganya. Keluarga yang sangat dia
cintai, tanpa sesosok ayah.



0 komentar:
Posting Komentar